loading...

Tuesday, September 4, 2018

LANGKA DIZAMAN NOW



*TAMU YANG SEDERHANA*

*"Usai maghrib saya kedatangan tamu di rumah ".*
“Assalamu 'alaikum“ sapanya ketika sam pai di depan pintu‎.‎
“Wa'alaikum salam“ Jawab saya sedikit kaget karena tidak mengenal tamu ini.”

Anda siapa? “tanya saya. ‎
“Saya Sobari“. katanya dengan wajah diliput senyum. ‎
"Bapak pengurus Masjid ?" tanyanya.‎

“Ya. Betul Pak. Ada apa ? Apa yang dapat saya bantu“‎
“Saya tadi melewati masjid yang sedang dibangun. Orang di sekitar masjid meminta saya untuk menemui bapak ?“

“Ada apa?"‎
“Saya ingin memberikan sedekah untuk penyelesaian pembangunan masjid“ katanya dengan tetap diliput senyum.
Saya memperhatikan penampilan org ini. Tidak nampak dia memiliki kemampuan untuk bersedekah. Saya lirik diluar, tidak ada nampak kendaraan diparkir. Pasti orang ini datang dengan angkutan umum atau becak. Mungkin orang ini "sakit". Atau        hanya ingin mempermainkan emosi saya.
Ya karena sudah hampir 4 tahun masjid itu tidak pernah selesai. Sementara saya sebagai Ketua Panitia Pembangunan Masjid sudah bosan mengajak masyarakat untuk berinfaq atau bersedekah. Tapi hasilnya hanya uang kecil yg terkumpul di dalam kotak amal. Sementara kotak amal yang diletakkan disetiap sudut pasar atau rumah makan hanya menghasilkan uang tidak seberapa. Padahal masyarakat yang ada disekitar mas jid ini terdiri dari para pedagang yang rata"  mempunyai omzet Rp. 3 juta perhari !
“Bagaimana Pak ? Kenapa bapak diam ?" tegurnya yang membuyarkan lamunan saya.‎
“Eh , iya. Pak, ehm..berapa bapak mau sumbang ?" tanya saya masih diliput rasa tidak percaya.
“Boleh saya tau, berapa dana diperlukan untuk menyelesaikan masjid itu?“ tanyanya dengan tenang.

Pertanyaan yang lagi" membuat saya hilang hasrat untuk bicara banyak sama tamu ini. Dia pasti orang "sakit jiwa".‎
“Ya.. kita butuh dana sebesar Rp 500 juta“ jawab saya. Berharap orang itu cepat berlalu.
“Baik, pak. Besok kalau bapak ada waktu, saya tunggu di Pengadilan Agama. Saya akan memberikan sedekah di hadapan hakim Agama”. Katanya tenang. “Jam berapa Bapak ada waktu?“ lanjutnya.
“ya liat besok aja ya pak“ jawab saya. Berharap orang itu cepat berlalu. Karena saya harus memimpin sholat isya di masjid.

“Baiklah, Ini nomor telp rumah saya. Kalau bapak siap, hubungi saya“ katanya.
“Permisi saya pamit dulu. Rumah saya jauh" lanjutnya sambil berdiri dan berlalu.

Baru saya sadar, tamu ini tidak saya tawarkan minum.
Setelah usai sholat Isa. Secara tidak sengaja saya melontarkan cerita kedatangan tamu ke rumah kepeada pengurus Masjid. Tanggapan mereka sama seperti saya. Orang itu Stress  dan tidak perlu dilayani.

Karna besok semua pengurus punya banyak kesibukan, yang tidak mungkin meluangkan waktu untuk datang ke Pengadilan Agama.

Keesokan harinya, salah satu pengurus meminta saya untuk menemaninya ke show room mobil. Dia hendak menebus indent kendaraan yang dipesannya sejak empat bulan lalu.
Kebetuan karena lokasi showroom tidak begitu jauh dari Kantor Pengadilan Agama, maka saya tawarkan kepada teman ini untuk mampir ke Pengadilan.
Dia sedikit sungkan tapi akhirnya setuju.

Langsung saya menghubungi orang yang akan menyumbang itu melalui cell phone ke rumahnya.
Dia langsung menyanggupi untuk datang. Berjanji jam 11 siang sudah sampai di Kantor Pengadilan Agama.
“Baiklah. Tapi saya tidak mau tunggu terlalu lama di kantor pengadilan itu. Lewat setengah jam anda tidak datang, saya akan pulang“ kata saya tegas.
Karna sebenarnya saya masih sangsi pada org ini.
“Insya Allah“ begitu jawabnya.‎
Tepat jam 11 saya dan teman sudah datang di pengadilan Agama. Tapi orang yang akan menyumbang belum juga datang. Lewat lima menit, orang yang akan menyumbang itu datang dengan menumpang angkutan BECAK yang masuk langsung ke dalam halaman Pengadilan Agama.
Bajunya sangat sederhana.

‎Teman saya yang melihat pemandangan itu,  langsung tersenyum kecut.
Bagaimana mungkin dia bisa menutup kekurangan pembangunan masjid

“Mungkin kita yang gila. Mau-maunya nungguin dia.Tapi ya sudahlah, kita liat aja" gerutu teman saya kala melihat kedatangan orang itu.‎
“Assalamu 'alaikum“ sapanya ketika sesampai didalam menjumpai kami.
“Ya , Bgmana Pak. Apakah bapak sudah bawa uangnya?“ tanya teman saya langsung kepokok persoalan.‎
“Ini, uangnya“ katanya sambil memperlihatkan kantong semen di tangannya. "Mari kita menemui petugas untak membuat akta penyerahan sumbangan ini. Maaf, bukan saya tidak percaya tapi ini perlu sebagaimana ajaran Al-Quran menyebutkan bahwa segala sesuatunya harus tertulis.“ katanya.
Sambil melangkah kedalam menemui petugas pengadilan.
Tanpa banyak kata, orang ini langsung menyerahkan tumpukan uang dihadapan petugas pengadilan.
Petugas itu meng hitung.
Jumlahnya Rp 500 juta !‎

Petugas itu kemudian menyerahkan formulir untuk kami isi.
Kemudian setelah tandatangani formulir itu, maka uang pun pindah ke tangan kami.

“Pak, Cukuplah Bapak" sebagai panitia dan Pak Hakim yang mengetahuinya. Saya menyumbang karna Allah...” katanya ketika akan pamit berlalu.

Melihat situasi yang di luar dugaan kami, maka timbul rasa malu dan rendah dihadapan orang ini. Ternyata dia yang kami nilai stress/gila, menunjukan kemuliaannya.
Sementara kami dari awal meremehkan & memandang sebelah mata padanya.

Maaf,  Mengapa bapak ikhlas menyumbang uang sebanyak ini. Sementara saya lihat bapak, maaf terlihat sangat sederhana. Mobil pun bapak tidak punya“ tanya teman saya dengan keheranan.
"Saya merasa sangat kaya. Karena Allah memberikan saya qalbu yang dapat memahami ayat-ayat Al-Qur'an. Cobalah anda bayangkan. Bila uang itu saya belikan kendaraan mewah, maka manfaatnya hanya seusia kendaraan itu. Bila saya membangun rumah megah maka nikmatnya hanya untk dipandang.
Tapi bila saya gunakan harta untuk saya sedekahkan di jalan Allah demi kepentingan Ummat, maka manfaatnya tidak akan pernah habis“. Demikian jawabnya dengan sangat sederhana tapi begitu menyentuh.
“Apa pekerjaan Bapak“ tanya teman saya.
“Saya petani Kopi. Alhamdulillah dari hasil kebun Kopi, lima anak saya semua sudah jadi sarjana dan sekarang mereka sukses dan hidup sejahtera. Lima"nya sudah berkeluarga. Alhamdulillah, semua Anak dan mantu saya sudah menunaikan haji”
“Bapak memang sangat beruntung. Apa resepnya hingga bapak dapat mendidik anak yang sholeh” tanya saya.
"Resepnya is : dekat lah kpd Allah. Cintailah Allah. Cintailah semua yang diamanahkannya kepada kita. Dan berkor banlah untuk itu. Bukankah anak, istri, lingkungan dan syiar agama islam amanah Allah kepada kita semua. Bila kita sudah mencintai Allah dengan hati & dibuktikan dengan perbuatan, maka selanjutnya hidup kita akan dijamin oleh Allah. Apakah ada yang paling bernilai di dunia ini dibanding kecintaan Allah kepada kita...“ Dia pamit dan berlalu dengan menumpang becak.

Sementara saya dan teman saya tercekat dan tak mampu ber-kata".

Kami tak berani mendahului becak yang ditumpanginya. Toyota Kijang keluaran terbaru yang baru saya beli bulan lalu serasa tak mampu melewati becak itu.
Saya malu. Malu dengan kerendahan diri saya dihadapan orang yang tawadhu namun ikhlas berjuang karena Allah. Mungkin penghasilan saya lebih besar darinya. Tapi belum bisa seikhlas dia. Saya jadi merasa tak pantas menyebut diri ini mencintai Allah.."

Semoga manfaat

*Mohon dapat untuk di share ke saudara-saudara kita yang MUSLIM*

No comments:

Post a Comment